Kawasan Kota Lama Kayuagung Miliki Daya Tarik Tersendiri

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

KAYUAGUNG – Daya tarik Kawasan Kota Lama Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) membuat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tertarik untuk menghampirinya.

Apalagi lokasinya yang berada di pinggiran Sungai Komering dan bangunan warna warni mampu meningkatkan wisatawan lokal dan luar negeri.

“Arahan dari Disbudpar Provinsi agar UMKM yang ada bisa dikembangkan dan dipusatkan di kawasan kota lama. Menurutnya kota lama sudah memiliki brand,” ungkap Camat Kota Kayuagung, Dedy Kurniawan SSTP MSi didampingi Kadin Pariwisata dan Budaya OKI H Amirudin SSos MSi, Jumat (14/4/2017).

Masih kata Dedy, pekan lalu Kawasan kota lama Kayuagung, Kedatangan Kepala Disbudpar Sumsel, Irene Camelyn bersama timnya seperti Parameswari, seorang pegiat media sosial yang sering menshare informasi dan foto-foto destinasi wisata di Indonesia serta Radifa ahli “sketch” asal Sumsel.

Menurut Dedy, mantan Kabag Humas Pemkab OKI ini, Disbudpar Sumsel berharap agar komunikasi dan koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI ditingkatkan, sehingga memiliki trik-trik untuk mengembangkan potensi wisata seperti melalui bloger dan media sosial.

Selanjutnya bisa disampaikan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinisi. “Disbudpar Provinsi akan membantu mempromosikan kawasan kota lama agar dikenal luas,” ujar Dedy.

Untuk itu, menurut Dedy ada dua hal yang perlu dibantu dan sedang diusahakan solusinya. Diantaranya masih ada masalah masyarakat yang menggunakan mandi cuci dan kakus (MCK) terapung, sehingga tidak sedap dipandang mata.

Lantaran masih ada 77 warga yang belum memiliki WC dan menyewa serta tidak memiliki fasilitas MCK dari tuan rumah.

“Masalah ini sebelumnya kita sudah sampaikan ke pusat melalui dana APBN yang disampaikan melalui reses anggota DPR RI,” ungkap Dedy.

Lalu berupaya menyerap dana CSR untuk membuat jemuran pakaian khusus agar masyarakat tidak menjemur pakaian sembarangan.

Adanya event, pengecatan rumah serta lomba selfie diharapkan membuat mayarakat merasa memiliki serta sadar akan potensi yang ada di lokasi tersebut.

Demikian dijelaskannya Amirudin, bahwa Kawasan Kota Lama Kayuagung mulai banyak dikenal masyarakat sebagai destinasi wisata di OKI. Event tahunan juga sering digelar di kawasan ini yang mampu menghipnotis masyarakat OKI dan sekitar. Bahkan para perantau “pulang kampung” untuk melihat semarak kegiatan di kawasan ini.

Sebut saja lomba bidar yang diadakan hampir tiap tahun baik di acara peringatan Kemerdekaan RI maupun Hari Ulang Tahun OKI.

Lomba ini digelar di bantaran sungai Komering yang membelah kota Kayuagung dari Kelurahan Sukadana hingga kelurahan Jua- Jua, Kelurahan Perigi hingga Kelurahan Kedaton. “Warga antusias menyaksikan lomba bidar tersebut hingga jalanan menjadi macet,” ungkap Amirudin.

Kemudian juga ada acara midang dan pagelaran budaya. Tiap tahun, kegiatan ini diselengarakan di kawasan kota lama menyusuri Sungai Komering. Acara Midang mengenalkan budaya Kayuagung yang diikuti oleh tiap kelurahan di Kayuagung. Lalu untuk pagelaran budaya juga digelar di kawasan kota lama.

“Kabupaten OKI yang dikenal dengan keragaman budaya akan terlihat dalam kegiatan ini. Seperti kesenian tiongkok seperti barongsai, kesenian Jawa, kesenian Bali dan yang lainnya,” ujar Amirudin.

Kawasan kota lama membentang dari Simpang Sri Kelang, Jalan Merdeka Kelurahan Mangun Jaya dan Cinta Raja hingga ke pinggiran Sungai Komering. Kemudian di pinggiran Sungai Komering dari sebagian Kelurahan Jua-Jua hingga Kelurahan Paku dan seberangnya dari Kelurahan Perigi hingga Kedaton.

Disebut kawasan kota lama lantaran bangunan-bangunan di kawasan ini berusia ratusan tahun. Bahkan ada satu bangunan yang merupakan bangunan batu pertama di Kayuagung. (sriwijaya post) http://palembang.tribunnews.com

Disbudpar Sumsel Dorong OKU Kembangkan Aset Budaya di Gua Harimau

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

BATURAJA – Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kembali melakukan sosialisasi Rumah Peradaban Gua Harimau.

Kegiatan di Pusatkan di Gua Putri Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Kamis (13/4/2017).

Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar), Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Dinas Pariwisata (Dispar) dan Dinas Pendidikan dan Budaya OKU.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Prov Sumsel, Irene Camelyn mengatakan, pihaknya mendorong Pemerintah Kabupaten khusunya Dinas terkait untuk lebih fokus untuk mengembangkan aset Budaya yang di temukan di Gua Harimau.

“Memang kita akui dalam setiap pengembangan dan pembangunan butuh anggaran. Namun disinilah kita di tuntut untuk proaktif dalam pengembangan,”kata Irene.

Selain itu, Disbudpar Provinsi Sumsel mendorong Pemkab OKU melaui Dinas terkait untuk melakukan 3 hal untuk menarik para wisatawan.

“Kami di Pemprov hanya bisa mendorong, tidak bisa terlibat langsung, terlebih lagi era otonomi daerah seperti sekarang ini. Sekarang jalan nya sudah terbuka, Pemkab khusunya Dinas terkait tinggal lagi mengembangkan,”jelas Irene.

Ia menambahkan, dalam pengembangan aset wisata dan aset budaya, perlu untuk melakukan tiga hal penting.
“Akses, Amenitas, dan Aktraksi, dan semoga dengan hadirnya adik – adik pelajar dan mahasiswa pada hari ini, Gua Harimau akan lebih di kenal masyarakat luas sebagai Rumah Peradaban Manusia puluhan ribu tahun di OKU yang menjadi kebanggaan kita bersama,”ungkapnya.

Pantauan dilapangan, kegiatan tersebut dibuka langsung, Wakil Bupati OKU Drs Johan Anuar SH MM. Selain itu dihadiri sejumlah jajaran pejabat pemkab OKU.

Kegiatan tersebut juga dihadiri para pelajar SMP Se-OKU, dan Mahasiswa Unsri FKIP Sejarah, Poltek jurusan Pariwisata untuk memberikan edukasi tentang peradaban kehidupan manusia di Gua Harimau puluhan ribu tahun yang silam. (Tribun Sumsel) http://sumsel.tribunnews.com

Rumah Peradaban Saksi Sejarah Peradaban Manusia

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

Baturaja – Keberadaan Rumah Peradaban dinilai sangat penting sebagai tempat untuk melestarikan sejarah peradaban manusia sejak jutaan tahun silam. Selain itu, rumah peradaban juga bisa menjadi edukasi bagi generasi penerus agar lebih melek terhadap budaya.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Irene Chamelyn Sinaga, usai melakukan sosialisasi Rumah Peradaban Goa Putri dan Goa Harimau di Baturaja, Kamis (13/4/2017).

Dikatakan Irene, Sosialisasi Rumah Peradaban di Sumsel pada tahun akan dilakukan di dua lokasi, pertama do Goa Putri dan Goa Harimau. Juli nanti akan dilakukan di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS).

“Ini merupakan kerjasama antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Hasil penelitian terhadap rumah peradaban ini akan disosialisasikan agar menjadi informasi yang mendunia. Seluruh elemen masyarakat mulai dari peneliti, akademisi, media, dan warga setempat terikat untuk memperkenalkan rumah peradaban ini. Kita tidak mau generasi sekarang lupa dengan sejarah yang ada, dan kita harus bangga karena kita merupakan bagian dari sejarah,” ujarnya.

Sementara, Ketua Tim Ahli Penelitian Goa Putri dan Goa Harimau, Profesor Truman Simanjuntak mengatakan, event sosialisasi rumah peradaban ini merupakan sebuah event yang penting untuk Kabupaten Ogan Komering Ulu, karena event ini membawa masyarakat memahami lebih jauh tentang peradaban manusia.

“Banyak temuan penting dari hasil penelitian di Goa Putri dan Goa Harimau, seperti tinggalan-tinggalan purba yang berumur sangat tua sekitar 13 hingga 15 juta tahun yang lalu ada di tempat ini,” katanya disela sosialisasi rumah peradaban.

Dirinya berharap, pemerintah setempat dan peneliti muda dapat mengeksplorasi temuan itu untuk diberitahukan ke seluruh masyarakat tentang awal mula terbentuknya daratan Sumatra bukan hanya daratan di OKU.

“Intinya rumah peradaban ini mengajak kita untuk benar-benar menjadi bangsa Indonesia yang berbudaya dengan nilai-nilai luhur, bukan bangsa yang tiba-tiba muncul tanpa kepribadian dan budaya,” tegasnya.

Di acara Sosialisasi Rumah Peradaban Goa Putri dan Goa Harimau itu juga dilakukan pemutaran video grafis tentang peradaban manusia purba di Goa Putri dan Goa Harimau, yang disajikan untuk puluhan pelajar dan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut. (kaganga.com).

Napal Licin Dijadikan sebagai Desa Wisata

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

MURATARA – Eksotisme Goa Batu di Desa Napal Licin Kecamatan Ulurawas Kabupaten Musirawas Utara (Muratara) sudah cukup populer di kalangan masyarakat. Tak hanya dikenal oleh masyarakat Muratara saja, namun juga oleh masyarakat luar daerah, hingga mancanegara. Karena itu, Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel akan menjadikan Desa Napalicin sebagai desa wisata.

Goa batu di Desa Napal Licin, dianggap memiliki keunikan tersendiri dan bernilai jual tinggi untuk menarik wisatawan. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel, Irene Camelyn mengatakan, pihaknya sengaja mengunjungi Desa Napalicin, karena mendapat instruksi dari Gubernur Sumsel Alex Noerdin, untuk mempopulerkan kembali objek wisata Goa Batu Napal Licin, sebagai destinasi wisata unggulan.

“Bapak gubernur sangat mendukung pariwisata di wilayah kita,” ujar Irene Camelyn saat berkunjung ke Goa Batu Napal Licin, bersama Bupati Muratara Syarif Hidayat, Minggu (8/4/2017).

Goa Batu Napal Licin merupakan aset daerah yang harus dikembangkan. Sebelumnya, lokasi wisata alam ini sudah dikenal luas oleh masyarakat, hingga ke mancanegara.
Menurutnya, Goa Batu Napal Licin sudah dikenal sampai ke Belanda.

“Jadi, mengapa kita harus mencari potensi wisata lain, sedangkan lokasi wisata yang kita punya sudah cukup dikenal,” ujarnya.

Untuk mengembangkan lokasi wisata Goa Batu Napal Licin dan menjadikannya sebagai lokasi kunjungan bagi wisatawan, harus dipersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan sarana dan prasarana pendukungnya.

Misalnya, tour guide, biro perjalanan, kemudian dari sisi kemananan, serta fasilitas pendukung lainnya, layaknya tempat wisata bertaraf internasional.

“Pesona Goa Batu Napal Licin ini luar biasa. Karena itu harus dikembangkan. Dan saya berharap masyarakat setempat juga ikut mendukung dan dapat menerima kedatangan para wisatawan dengan terbuka,” katanya.

Bupati Muratara Syarif Hidayat mengharapkan dukungan penuh dari provinsi, khususnya Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel untuk mengembangkan kembali potensi wisata Goa Batu Napal Licin sehingga, geliat wisata di wilayah ini dapat bangkit kembali. Dan kepada masyarakat, ia juga mengharapkan, agar dapat menjaga potensi yang ada. Baik menjaga kelestarian lokasi wisata tersebut, maupun juga turut mendukung dalam menjaga keamanan.

Sehingga, para wisatawan yang datang, merasa aman dan nyaman saat menikmati keindahan alam di Goa Batu Napal Licin khususnya, dan Kabupaten Muratara pada umumnya.

“Setelah ada dukungan, kami harap masyarakat bisa menjaga keamanan. Jangan sampai pengunjung yang datang kewilayah kita kecewa. Kepada kades, camat, juga harus mampu menciptakan iklim keamanan dan ketertiban, sehingga potensi pariwisata di Muratara bisa lebih maksimal,” katanya. (sriwijaya post) http://palembang.tribunnews.com

Poltekpar Palembang Terima Mahasiswa Baru TA 2017-2018

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

Politeknik Pariwisata Palembang beserta 5 Perguruan Tinggi Pariwisata di Indonesia lainnya (STP NHI Bandung, Akpar Medan, STP ND Bali, Poltekpar Makasar, Poltekpar Lombok) membuka Penerimaan Mahasiswa Baru untuk Tahun Ajaran 2017-2018.

Ada dua cara untuk bisa bergabung :

  1. Lewat jalur SBM – STAPP : Jika berdomisili di di Kota Palembang dan sekitarnya dab ingin mengikuti tes tujuan Poltekpar Lombok tidak perlu harus ke Lombok. Peminat bisa melakukan pendaftaran dan mengikuti tes di Poltekpar Palembang. Begitupun sebaliknya bagi peminat yang ada di Lombok, Bandung, Makasar, Bali, dan Medan jika iingin bergabung dengan Poltekpar Palembang.
  2. Lewat Jalur SMM : pemionat bisa langsung mendaftar dang mengikuti tes di Politeknik Pariwisata  Palembang sesuai dengan jadwal yang telah di informasikan.

Ikuti terus untuk informasi lengkap seputar penerimaan Mahasiswa Baru Poltekpar Pariwisata Palembang TA 2017-2018.

Salam Pesona Indonesia

Palembang Fashion Week 2017

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

65 Desainer Lokal dan Nasional Beraksi di Palembang Fashion Week 2017

Palembang Fashion Week 2017 melibatkan desainer yang lebih banyak dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
Tercatat 65 desainer dan tenant siap untuk menunjukkan koleksi trend terbaru 2017 yang terbagi menjadi tiga kategori seperti Hijab, Indonesian Couture dan Ready to Wear.
Saat pembukaan Palembang Fashion Week 2017 dihadirkan parade busana dari para desainer seperti Rajendralabel, Pesona Palembang, Lentera, Siung-Siung, HYS, Chyci Kebaya dan lain-lain.


Para desainer ini menghadirkan koleksi pakaian terbaiknya seperti Pesona Palembang menghadirkan busana ready to wear yang sangat modis dengan corak dan motif khas tenun tradisional modern yang sangat menawan.
Selain itu, Palembang Icon menggandeng beberapa desainer yang masih mengangkat kain tradisional lainnya yang sangat mewah.


Hj Ratu Anita Soviah dengan brand Lentera misalnya, desainer ini menghadirkan sejumlah koleksi terbaru dengan bahan dasar kain tenun tradisional Sumatera Selatan.
Tak kalah Siung-Siung menghadirkan kain Batik Jepri Palembang.
Koleksi menawan ini akan dihadirkan dengan konsep yang sangat modern dan dapat digunakan untuk wanita dewasa yang lebih glamour.

(http://sumsel.tribunnews.com)

Kapitan Cina Terakhir Di Palembang

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

Siang di ruang tamu Rumah Abu di Kampung Kapitan Palembang, Keturunan Langsung dari Kapitan Cina terakhir di pecinan Palembang, Mulyadi bercerita dengan penuh semangat. Banyak yang dia sampaikan terlebih mengenai sejarah leluhurnya. Seperti kebanyakan warga Palembang lainnya, sejarah Palembang yang diketahui oleh pak Mulyadi tidak tertib urutan waktunya dan tertukar tokoh-tokohnya, tapi itu bisa dimaklumi, karena sejak di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas sejarah yang dipelajari oleh warga Palembang adalah sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan hanya sedikit menyinggung sejarah kota kelahiran mereka sendiri, Palembang.

Namun ada dua hal yang sangat menarik perhatian dari ‘orasi kebudayaan’ pak Mulyadi itu, pertama, bahwa dia dan keluarganya memiliki buku tua warisan keluarga yang ditulis dalam huruf Cina yang tidak bisa dibaca pak Mulyadi karena mereka sekeluarga tidak bisa lagi membaca aksara Cina. Dan kedua, bahwa kapitan Cina terakhir yang ada di Palembang dimakamkan di daerah Kemang Manis Palembang, di sebelah barat daya pemakaman Puncak Sekuning.

Berangkat dari temuan ini, perburuan untuk menggali lebih dalam salah satu kisah budaya Palembang itu pun dimulai…

Berbekal petunjuk Pak Mulyadi makam Kapitan Cina yang terakhir di Palembang cukup mudah ditemukan, letaknya di dataran tinggi, di daerah perbukitan di barat laut kota Palembang, yang ditunjukkan dalam peta Palembang pada tahun 1947 berikut ini.

Peta Palembang Pada tahun 1947

Dari dua kali kunjungan ke makam ini, pada kunjungan pertama kondisi makam sangat menyedihkan. Pelatarannya tergenang, sebagian dilapisi lumpur tipis, dan di sekitarnya becek. Makamnya sendiri dinaungi oleh bangunan batu terbuka, dengan tulang plafon yang mulai miring dan atap genteng yang tidak simetris. Penilaian singkat atas situasinya adalah, tidak menarik. Dengan potensi kedepan yang seharusnya bisa menarik wisatawan, Ini bukan tempat yang akan didatangi oleh turis.

Makan Kapitan Oey Pada Pertengahan Tahun 2016

Namun dikunjungan kedua, ada yang berubah, bangunan batunya sudah tidak ada, makamnya tidak lagi diselimuti beton, dan ada tanaman di sekitar makam, penilaian singkat atas situasinya adalah, keadaan membaik, namun masih buruk, masih tetap becek dan tergenang. Tempat yang mungkin akan dikunjungi turis bila tidak ada lagi yang bisa mereka kunjungi di Palembang.

Makam Kapitan Oey

Makam Yang Lebih Kecil Di Sisi Sebelah Timur Makam Utama

Pemandangan Ke Arah Sungai Musi Dari Makam Kapitan Oey

Hal yang lebih menyedihkan adalah, di sekitar makam tidak ada keterangan mengenai makam bersejarah ini. Tidak ada tulisan dalam aksara latin yang bisa dibaca mengenai penghuni makam, siapa namanya, apa jabatannya, bagaimana perjalanan hidupnya dan bagaimana akhir hidupnya. tidak ada, Nol.

Padahal kapitan Cina adalah jabatan yang penting, kapitan Cina adalah orang yang ditunjuk oleh penguasa Palembang (saat itu adalah Belanda) untuk mengelola komunitas Cina yang ada di Palembang, dan Palembang di masa itu adalah sama seperti provinsi Sumaera Selatan saat ini.

Nama Kapitan Cina yang terakhir di Palembang adalah Oey Teng Kiang, pekerjaannya pasti sulit, karena sebagai ketua komunitas Cina, dia harus menjaga ketertiban komunitasnya dan bertanggung jawab kepada pemerintah Belanda yang telah menunjuknya.

Berat karena pada masa itu ada berbagai perkumpulan rahasia di kalangan masyarakat Cina di Palembang yang kegiatannya cenderung kepada kejahatan, bahkan di singapura, ada perkumpulan rahasia masyarakat Cina disana yang terkait dengan Triad di Hong Kong dan Cina daratan.

Tidak diketahui apakah ada jaringan Triad di Palembang pada masa itu, Namun pada tahun 1866 Gustave Schlegel menyebut adanya perkumpulan rahasia Cina di Palembang yang bernama ‘Seven Friendly’.

Kapitan Oey sendiri berhadapan dengan perkumpulan rahasia Cina pada masa kepemimpinannya, nama perkumpulan rahasia itu adalah ‘Three Star’, dan ‘Three Star’ ini adalah perkumpulan rahasia yang agresif, mereka hendak merekrut Kapitan Oey menjadi anggota mereka, namun Kapitan Oey menolak, penolakan itu membua ‘Three Star’ kalap, mereka menyerang kapitan secara fisik, mengancam nyawanya, tercatat tiga kali ‘Three Star’ menyerang Kapitan Oey, dalam serangan-serangan itu jatuh korban jiwa, namun Kapitan Oey selalu selamat.

Lalu pada tanggal 19 september 1924, Kapitan Oey sekali lagi diserang, kali ini kapitan Oey mendapatkan 35 luka tusuk di sekujur tubuhnya, Kapitan Oey tewas.
Berita tewasnya kapitan Oey ini menyebar kemana-mana, bahkan menjadi berita di sebuah koran yang terbit di Singapura.

Kini kapitan Oey terbaring di makamnya, makam megah yang tidak terurus. sebagai tokoh kota Palembang di masa hidupnya, kapitan Oey layak mendapatkan lebih dari ini.
Merawat makam kapitan Oey adalah bagian dari mengenang dan melestarikan kisah mengenai para kapitan yang pernah ada di Palembang.

Kehidupan kapitan Oey layak dikenang dan diceritakan sebagai bagian dari kekayaan budaya kota Palembang, kota tua, yang luar biasa.

Teks : Robby Sunata

Foto : Robby Sunata

Disbudpar Sumsel Promosi Wisata Sumsel Di  Berlin

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

BERLIN – Keseriusan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk mendongkrak kunjungan Wisatawan Manca Negara ke Indonesia khususnya ke Sumatera Selatan salah satu langkah yang diambilnya adalah dengan mengikuti Ajang  Internationale Tourismus-Borse Berlin (ITB) Berlin yang berlangsung di Masse Berlin Jerman dari 8 hingga 12 Maret lalu.  ITB Berlin merupakan Pameran Pariwisata terbesar di Dunia yang diikuti oleh banyak Negara dengan jumlah pengunjung lebih dari 200.000 orang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Irene Camelyn Sinaga menjelaskan ITB Berlin merupakan ajang Exebisi  Pariwisata terbesar Dunia yang diikuti 179 Negara dan diliput oleh 20.000 ribu wartawan lokal  dan 10.000 ribu wartawan dari Negara lain.

Keikut sertaan Sumsel dari Indonesia diajang ITB Berlin dimaksudkan untuk memperkenalkan potensi budaya dan Pariwisata Sumsel ditingkat Dunia, Sehingga Nantinya target kunjungan Wisatawan Manca Negara yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dapat terpenuhi.

Salah satu yang menjadi  daya tarik pada Exebisi Pariwisata tersebut adalah Duta Pariwisata dari Sumatera Selatan Ratih Anggraini yang merupakan Putri Sumsel 2015 dan Novi Triyastuti Finalis Putri Sumsel 2014. Selain keduanya memakai pakaian adat Sumsel juga  sangat fasih dalam mempromosikan Potensi Pariwisata Sumatera Selatan kepada pengunjung Pameran.

“Diharapkan dengan keikut sertaan Sumsel dalam ITB Berlin ini maka kunjungan Wisman ke Indonesia khhususnya ke Sumsel akan lebih meningkat,” jelas Irene.

Pada bagian lain Kementrian Pariwisata melalui Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Gede Pitana menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Provinsi Sumsel dalam mengambangkan Dunia Pariwisata di Daerah, diharapkan dengan banyaknya event Olahraga Internasional yang digelar di Sumsel juga mampu meningkatkan kunjungan Wisman didaerah ini.Sementara itu Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin juga berkesempatan mengunjungi Stand Sumsel  dan Vavilion Indonesia di ITB Berlin, Sabtu (11/3) lalu

Komunitas Sosial Media, Elemen Penting Promo Wisata Sumsel

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page
Palembang – Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin menerima Komunitas Sosial Media di Griya Agung Palembang, Senin (13/2/2017). Sekitar 20 orang yang hadir dari komunitas Palembang Terkini, Blogger, Desainer, Ahli Properti, Backpacker dan Rumah Kue.
Kemudian tampak hadir juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Provinsi Sumsel, Irene Camelyn Sinaga serta Duta Besar Anti Narkoba Provinsi Sumsel, Hj Lury Elza Alex.
Sebelumnya, para komunitas sosial media ini berperan penting dalam mensukseskan perkembangan Kampung Al Munawar di kawasan 13 Ulu Palembang. Bahkan kampung ini sebagai destinasi di Kota Palembang, yang baru-baru ini saja diresmikan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin. Sabtu (11/2/2017) beberapa waktu yang lalu.
Kunjungan mereka kali ini, dalam rangka penataan kembali pulau kemaro dan pasar 16 ilir Palembang. Untuk kegiatan penataan 16 ilir akan diselenggarakan pada tanggal 1 April yang disebut festival 16 night.
“Kami sudah melakukan pertemuan ke Pemerintah Kota Palembang dalam hal ini dinas terkait yaitu Dinas Pariwisata Palembang, Balai Kebudayaan, PD Pasar, Pelaku Plt Pasar 16 dan bahkan sudah memberikan paparan kepada Bank Indonesia (BI),” kata Kepala Kadisbudpar Provinsi Sumsel, Irene Camelyn Sinaga.
Lanjutnya, kegiatan ini nantinya diawali dengan lomba kebersihan, setelah itu akan difokuskan di pasar 16 ilir dengan berbagai acara lainnya. Seperti festival jazz, festival pesona musi dan festival kuliner. “Nah, kami akan adakan festival itu pada malam hari, dengan begitu di pasar 16 ilir nanti akan dijadikan sebagai pertunjukan aktrasi malam hari,” ujarnya.
Sementara, setelah mendengarkan paparan yang disampaikan Kadisbudpar tadi, Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin sangat menyambut baik atas gagasan dan ide yang di canangkan itu. “Saya apresiasi sekali karena merubah pasar 16 ilir kini menjadi pasar kuliner di malam hari,” ujarnya.
Namun, orang nomor satu di Sumsel tersebut menyarankan, agar kegiatan seperti itu harus diperlukan keamanan, mengingat keamanan sangatla penting. Karena nanti yang akan berkunjung pasti banyak sekali. Oleh karenanya perlu direncanakan dengan matang dan baik. Tidak harus terburu-buru. “Saya sarankan untuk bertemu dan bicara langsung kepada Walikota sehingga kegiatan itu bisa berjalan dengan baik dan lancar,” tutupnya.