Kawasan Kota Lama Kayuagung Miliki Daya Tarik Tersendiri

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

KAYUAGUNG – Daya tarik Kawasan Kota Lama Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) membuat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tertarik untuk menghampirinya.

Apalagi lokasinya yang berada di pinggiran Sungai Komering dan bangunan warna warni mampu meningkatkan wisatawan lokal dan luar negeri.

“Arahan dari Disbudpar Provinsi agar UMKM yang ada bisa dikembangkan dan dipusatkan di kawasan kota lama. Menurutnya kota lama sudah memiliki brand,” ungkap Camat Kota Kayuagung, Dedy Kurniawan SSTP MSi didampingi Kadin Pariwisata dan Budaya OKI H Amirudin SSos MSi, Jumat (14/4/2017).

Masih kata Dedy, pekan lalu Kawasan kota lama Kayuagung, Kedatangan Kepala Disbudpar Sumsel, Irene Camelyn bersama timnya seperti Parameswari, seorang pegiat media sosial yang sering menshare informasi dan foto-foto destinasi wisata di Indonesia serta Radifa ahli “sketch” asal Sumsel.

Menurut Dedy, mantan Kabag Humas Pemkab OKI ini, Disbudpar Sumsel berharap agar komunikasi dan koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI ditingkatkan, sehingga memiliki trik-trik untuk mengembangkan potensi wisata seperti melalui bloger dan media sosial.

Selanjutnya bisa disampaikan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinisi. “Disbudpar Provinsi akan membantu mempromosikan kawasan kota lama agar dikenal luas,” ujar Dedy.

Untuk itu, menurut Dedy ada dua hal yang perlu dibantu dan sedang diusahakan solusinya. Diantaranya masih ada masalah masyarakat yang menggunakan mandi cuci dan kakus (MCK) terapung, sehingga tidak sedap dipandang mata.

Lantaran masih ada 77 warga yang belum memiliki WC dan menyewa serta tidak memiliki fasilitas MCK dari tuan rumah.

“Masalah ini sebelumnya kita sudah sampaikan ke pusat melalui dana APBN yang disampaikan melalui reses anggota DPR RI,” ungkap Dedy.

Lalu berupaya menyerap dana CSR untuk membuat jemuran pakaian khusus agar masyarakat tidak menjemur pakaian sembarangan.

Adanya event, pengecatan rumah serta lomba selfie diharapkan membuat mayarakat merasa memiliki serta sadar akan potensi yang ada di lokasi tersebut.

Demikian dijelaskannya Amirudin, bahwa Kawasan Kota Lama Kayuagung mulai banyak dikenal masyarakat sebagai destinasi wisata di OKI. Event tahunan juga sering digelar di kawasan ini yang mampu menghipnotis masyarakat OKI dan sekitar. Bahkan para perantau “pulang kampung” untuk melihat semarak kegiatan di kawasan ini.

Sebut saja lomba bidar yang diadakan hampir tiap tahun baik di acara peringatan Kemerdekaan RI maupun Hari Ulang Tahun OKI.

Lomba ini digelar di bantaran sungai Komering yang membelah kota Kayuagung dari Kelurahan Sukadana hingga kelurahan Jua- Jua, Kelurahan Perigi hingga Kelurahan Kedaton. “Warga antusias menyaksikan lomba bidar tersebut hingga jalanan menjadi macet,” ungkap Amirudin.

Kemudian juga ada acara midang dan pagelaran budaya. Tiap tahun, kegiatan ini diselengarakan di kawasan kota lama menyusuri Sungai Komering. Acara Midang mengenalkan budaya Kayuagung yang diikuti oleh tiap kelurahan di Kayuagung. Lalu untuk pagelaran budaya juga digelar di kawasan kota lama.

“Kabupaten OKI yang dikenal dengan keragaman budaya akan terlihat dalam kegiatan ini. Seperti kesenian tiongkok seperti barongsai, kesenian Jawa, kesenian Bali dan yang lainnya,” ujar Amirudin.

Kawasan kota lama membentang dari Simpang Sri Kelang, Jalan Merdeka Kelurahan Mangun Jaya dan Cinta Raja hingga ke pinggiran Sungai Komering. Kemudian di pinggiran Sungai Komering dari sebagian Kelurahan Jua-Jua hingga Kelurahan Paku dan seberangnya dari Kelurahan Perigi hingga Kedaton.

Disebut kawasan kota lama lantaran bangunan-bangunan di kawasan ini berusia ratusan tahun. Bahkan ada satu bangunan yang merupakan bangunan batu pertama di Kayuagung. (sriwijaya post) http://palembang.tribunnews.com