Lifestyle Halal Merebak, Sumsel Harus Cepat Ambil Potensi Wisata Halal

Share to friendsShare on FacebookTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Google+Share on TumblrShare on StumbleUponEmail this to someonePrint this page

Palembang – Halal sudah menjadi lifestyle (gaya hidup) kekininan saat ini. Halal yang sudah menjadi kewajiban bagi umat muslim dalam pandangan berkehidupannya ini sudah banyak pula di terapkan sebagai gaya hidup di negara-negara mayoritas non muslim. Hal ini di kemukakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwasata Provinsi Sumsel, Irene Camelyn Sinaga pada Workshop Pengembangan Wisata Halal Berbasis Standar yang digelar di Fave Hotel Palembang, Selasa (26/09/2017).

“Halal itu sudah jadi lifestyle, dan terkait Pariwisata Sumsel saat ini Halal menjadi potensi dagang yang menjanjikan,” ujar Irene.

Ia mencontohkan keberhasilan beberapa Provinsi di Indonesia seperti Nusa Tenggara Barat dengan Hotel Halalnya yang menjadi hotel halal terbaik di dunia, dan juga Aceh dengan banyaknya kategori wisata halal yang menjadi terbaik di dunia pula. Sementara Sumsel yang awal dicangangkannya Wisata Halal ditarget menjadi tiga besar ternyata belum mampu bersaing di tempat tersebut.

Wisata Halal meliputi antara lain Destinasi Halal, Bandar Halal, Restoran Halal dan lain-lain. Sumsel punya potensi besar di Segmen ini, namun harus cepat digarap serius untuk bisa mengambil faedah yang kali ini terkait pariwisata.

“Potensi dari halal ini harus cepat Sumsel ambil. Walaupun sekarang belum siap wisata halalnya, tapi pasti Sumsel akan banyak dilirik dari sisi ini,” ujar Irene.

Untuk itu, persiapan, pembelajaran dan juga standaraisasi terkait wisata halal diperlukan untuk mengejar ketertinggalan. Setidaknya di worshop ini, kurang lebih 50 orang dari berbagai stake holder di Sumsel sedang berkomunikasi bagaimana mempercepat pengembangan Wisata Halal di Sumsel.

Msih ditempat yang sama, Pelaksana Harian Badan Standarisasi Nasional (BSN) yang juga Sekretaris Utama BSN, Ir M Beni Nugraha saat membuka Workshop mengatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas sertifikasi dan akreditasi standar nasional yang juga dibutuhkan untuk standarisasi dan akreditasi halal. Muali dari dari Akreditasi Usaha Lembaga Pariwisata, SNI terkait Halal, Sistem Manajemen Halal, pemotongan Halal pada unggas dan lain sebagainya.

Dalam pandangan yang sama, Beni mengatakan bahwa potensi wisata halal di Sumsel tentu akan menciptakan bisnis yang menguntungkan. Bahkan hal ini sudah dimanfaatkanoleh negara-negara yang mayoritas non muslim seperti Brazil dan Perancis. Fakta perdagangan mencatat Brazil mengekspor 1 Juta Metric Ton (MT) daging ayam beku halal dan 300 ribu MT daging sapi halal ke negara-negara konsumer daging halal. Begitu juga Perancis yang mengekspor 750 ribu MT daging ayam halalnya.

Data ini menunjukkan bahwa konsumer halal sudah sangat banyak dan ternyata sudah lebih dulu pula dimanfaatkan oleh negara-negara yang notabene bukan negara mayoritas muslim.

“Berkaca dari itu, tentu Sumsel bisa melihat potensi ini setidaknya dimulai dari Wisata Halal,” ujar nya.

Pasar Asia Tenggara pastinya sangat mudah ditembus jika Wisata Halal di Sumsel sudah siap. Malaysia, Singapura, Brunei menjadi target penting terlebih wisman dari negara-negara in pula yan tercatat paling sering berkunjung di Sumsel.

sumber : kaganga.com